Jeruk

Sunday, 2 February 2014

TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG KURIKULUM


Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan oleh siswa dalam  periode waktu tertentu, untuk mencapai gelar atau ijazah tertentu.[1]
Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah. Kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran, mata pelajaran pada hakekatnya adalah pengalaman nenek moyang masa lampau, pengalaman itu dipilih, dianalisa, kemudian disusun secara sistematis dan logis. Sehingga timbullah mata pelajaran seperti : sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat dan sebagainya.
Yang jelas ialah bahwa kurikulum bukanlah buku kurikulum, bukanlah sekedar dokumen yang dicetak atau distensil. Untuk mengetahui kurikulum sekolah, tidak cukup mempelajari buku kurikulumnya saja, melainkan juga apa yang terjadi disekolah, dalam kelas, diluar kelas, kegiatankegiatan di lapangan olah raga, di aula dan sebagainya.
Oleh karena itu, kurikulum harus di tata atau di atur sebaik mungkin agar hasil yang diperolehpun juga bisa maksimal.[2]
TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG KURIKULUM
Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan tentang setiap aspek kurikulum. Untuk tiap keputusan harus ada dasarnya. Filsafat adalah cara berpikir yag sedalam-dalamnya, yakni sampai akarnya tentang hakikat sesuatu.
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
a.         Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
b.         Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
c.          Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami drinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
d.         Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
e.         Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada
rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping
menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.[3]
Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka junjung tinggi. Filsafat yang kabur akan menimbulkan kurikulum yang tidak menentu arahnya. Kini terdapat berbagai aliran filsafat, masing-masing dengan dasar pemikiran tersendiri. Menurut Nasution (2008) ada 4 aliran filsafat yang melandasi kurikulum yaitu :
    Aliran Perennialisme
Aliran ini bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui pengetahuan yang abadi, universal dan absolute, atau perennial yang ditemukan dan diciptakan para pemikir unggul sepanjang masa.
Kurikulum yang diinginkan oleh aliran ini terdiri atas subject atau mata pelajaran yang terpisah sebagai disiplin ilmu dengan menolak penggabungan seperti IPA atau IPS. Hanya mata pelajaran yang sungguh mereka anggap dapat mengembangkan kemampuan intelektual seperti matematika, fisika, kimia, biologi yang diajarkan, sedangkan yang berkeaan dengan emosi dan jasmani seperti seni rupa, olah raga sebagainya dikesampingkan.[4]
    Aliran Idealisme
Filsafat ini bependapat bahwa kebenaran itu berasal dari “atas, dari dunia supra natural dari Tuhan. Boleh dikatakan hampir semua agama menganut filsafat idealism. Kebenaran dipercayai datangnya dari Tuhan yang diterima melaui wahyu. Kebenaran ini termasuk dogma dan norma-normanya bersifat mutlak. Apa yang datang dari Tuhan baik dan benar. Tujuan hidup ialah memenuhi kehendak Tuhan.
Filsafat ini umumnya diterapkan di sekolah yang berorientasi religius. Semua siswa diharuskan mengikuti pelajaran agama, menghadiri khotbah dan membaca Kitab Suci. Biasanya disiplin termasuk ketat, pelanggaran diberi hukuman yang setimpal bahkan dapat dikeluarkan dari sekolah. Namun pendidikan intelektual juga sangat diutamakan dengan menentukan standar mutu yang tinggi.[5]
Para filosof idealisme mengemukakan bahwa realitas hakikatnya bersifat spiritual. Tujuan pendidikan berdasarkan aliran idealisme ini adalah pengembangan karakter, pengembangan bakat insani, dan kebajikan sosial. Sedangkan kurikulumnya diorganisasi menurut mata pelajaran (subject matter) dan berpusar pada materi pelajaran (subject centered). Metode pendidikan yang digunakan adalah metode dialektik, namun demikian tiap metode yang mendorong belajar dapat diterima, dan cenderung mengabaikan dasar-dasar fisiologis untuk belajar. Adapun orientasi pendidikan Idealisme adalah esensialisme.
    Aliran Realisme
Filsafat realism mencari kebenaran di dunia ini sendiri. Melalui pengamatan dan penelitian ilmiah dapat ditemkan hukum-hukum alam. Mutu kehidupan senantiasa dapat ditingkatkan melalui kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan hidup ialah memperbaiki kehidupan melalui penelitian ilmiah.
Sekolah yang beraliran realism mengutamakan pengetahuan yang sudah mantap sebagai hasil penelitian ilmiah yang dituangkan secara sistematis dalam berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran. Di sekolah akan dimulai dengan teori-teori dan prinsip-prinsip yang fundamental, kemudian praktek dan aplikasinya.
Karena mengutamakan pengetahuan yang esensial, maka pelajaran “embel-embel” seperti keterampilan dan kesenian dianggap tidak perlu.
Kurikulum ini tidak memperhatikan minat aak, namun diharapkan agar menaruh minat terhadap pelajaran akademis. Ia harus sungguh-sungguh memelajari buku-buku berbagai disiplin ilmu. Penguasaan ilmu yang banyak berkat studi yang intensif adalah persiapan yang sebaik-baiknya bagi lanjutan studi dan kehidupan dalam masyarakat. Dapat dibayangkan banyaknya murid yang tidak mampu mengikut studi akademis serupa ini.[6]
Para filosof realisme umumnya memandang dunia dalam pengertian materi yang hadir dengan sendirinya dan tertata dalam hubungan-hubungan yang teratur di luar campur tangan manusia. Tujuan pendidikan berdasarkan aliran realisme ini adalah untuk penyesuaian diri dalam hidup dan mampu melaksanakan tanggung jawab sosial. Kurikulum berdasarkan realisme, harus bersifat komperhensif yang berisi sains matematika, ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial, serta nilai-nilai. Sedangkan metode yang digunakan hendaknya bersifat logis dan psikologis. Pembiasaan merupakan metode utama bagi penganut realisme. Adapun orientasi pendidikan realisme adalah essensialisme.
    Aliran Pragmatisme
Aliran ini juga disebut aliran instrumentalisme atau utilitarianisme dan berpendapat bahwa kebenaran adalah buatan manusia berdasarkan pengalamannya. Tidak ada kebenaran mutlak, kebenaran adalah relative dan dapat berubah. Yang baik ialah berakibat baik bagi masyarakat. Tujuan hidup ialah mengabdi kepada masyarakat dengan peningkatan kesejatreaan manusia.
Menurut aliran pragmatisme tujuan pendidikan adalah pertumbuhan sepanjang hayat, proses rekonstruksi yang berlangsung terus menerus dari pengalaman yang terakumulasi dan sebuah proses sosial. Tujuan pendidikan tidak ditentukan dari luar dan tidak ada tujuan akhir pendidikan. Tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman yang berguna untuk mampu memecahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan individual maupun sosial. Kurikulum menurut pragmatisme berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, tidak memisahkan pendidikan liberal dan pendidikan praktis. Kurikulum mungkin berubah, warisan-warisan sosial dari masa lalu tidak menjadi fokus perhatian. Pendidikan terfokus pada kehidupan yang baik pada saat ini dan masa datang bagi individu, dan secara bersamaan masyarakat dikembangkan. Kurikulum bersifat demokratis. Metode yang digunakan mengutamakan pemecahan masalah, penyelidikan, dan penemuan. Orientasi pendidikan pragmatisme adalah progresivisme.
Tujuan guru bukan mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan berbagai kegiatan guna memcahkan masalah, atas dasar kepercayaan bahwa belajar tu hanya dapat dilakukan oleh anak sendiri, bukan karena “dipompakan ke dalam otaknya”. Yang penting ialah bukan “what to think” melainkan “how to think” yakni melalui pemecahan masalah. Pengetahuan diperoleh bukan dengan mempelajari mata pelajaran, melainkan karena digunakan secara fungsional dalam memecahkan masalah.
Aliran pragmatism sering sejalan dengan aliran rekonstruksionisme yang berpendirian bahwa sekolah harus berada pada garis depan pembangunan dan perubahan masyarakat. Sekolah ini menjauhi indoktrinasi dan mengajak siswa secara kritis menganalisis isu-isu social.
    Aliran Esistensialisme
Filsafat ini mengutamakan individu sebagai factor dalam menentukan apa yang baik dan benar. Norma-norma hidup berbeda secara individual dan ditentukan masing-masing secara bebas, namun dengan pertimbangan jangan menyinggung perasaan orang lain. Tujuan hidup adalah menyempurnakan diri, merealisasikan diri.
Sekolah yang berdasarkan eksistensialisme mendidik anak agar ia menentukan pilihan dan keputusan sendiri dengan menolak otoritas orang lain. Ia harus bebas berpikir dan mengambil keputusan sendiri secara bertanggung jawab. Sekolah ini menolak segala kurikulum, pedoman, instruksi, buku wajib, dan lain-lain dari pihak luar. Anak harus mencari identitasnya sendiri, menentukan standarnya seniri dan kurikulumnya sendiri.
Dari semua mata pelajaran, mungkin ilmu-ilmu social yang paling menarik mereka. Penddikan moral tidak diajarkan kepada mereka, juga tidak ditetapkan aturan-aturan yang harus mereka patuhi.[7]
Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.[8]
Segala keputsan yang diambil mengenai pendidikan atau kurikulum, bila ditelusuri secara lebih mendalam, mempunyai dasar filosofis. Sering filsafat yang mendasarinya tidak dinyatakan secara eksplisit. Keputusan tentang PPSI, CBSA, muatan local, pendidikan dasar 9 tahun, tentu ada dasar falsafahnya.


[1] Handbook. ilmu dan aplikasi pendidikan hal.151
[2] ahmadmaulanaakbar.blogspot.com/2012/09/filsafat-pendidikan-islam-tinjauan_15.html
[3] Akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/
[4] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008, hlm 23
[5] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008, hlm 23
[6] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008, hlm 23
[7] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008, hlm 23
[8] akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/

No comments:

Post a Comment