Kurikulum adalah sejumlah
mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan oleh siswa dalam periode waktu tertentu, untuk mencapai gelar
atau ijazah tertentu.[1]
Kurikulum adalah sejumlah
mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah.
Kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran, mata pelajaran pada hakekatnya
adalah pengalaman nenek moyang masa lampau, pengalaman itu dipilih, dianalisa,
kemudian disusun secara sistematis dan logis. Sehingga timbullah mata pelajaran
seperti : sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat dan sebagainya.
Yang jelas ialah bahwa
kurikulum bukanlah buku kurikulum, bukanlah sekedar dokumen yang dicetak atau
distensil. Untuk mengetahui kurikulum sekolah, tidak cukup mempelajari buku
kurikulumnya saja, melainkan juga apa yang terjadi disekolah, dalam kelas,
diluar kelas, kegiatankegiatan di lapangan olah raga, di aula dan sebagainya.
Oleh karena itu, kurikulum
harus di tata atau di atur sebaik mungkin agar hasil yang diperolehpun juga
bisa maksimal.[2]
TINJAUAN
FILOSOFIS TENTANG KURIKULUM
Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam
mengambil keputusan tentang setiap aspek kurikulum. Untuk tiap keputusan harus
ada dasarnya. Filsafat adalah cara berpikir yag sedalam-dalamnya, yakni sampai
akarnya tentang hakikat sesuatu.
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan
kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada
berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme,
eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan
kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu,
sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang
dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah
ini diuraikan tentang isi dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan
pengembangan kurikulum.
a. Perenialisme lebih menekankan pada
keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan
dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang
memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini
menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada
tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
b. Essensialisme menekankan pentingnya
pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik
agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata
pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang
berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme,
essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
c. Eksistensialisme menekankan pada
individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami
kehidupan seseorang mesti memahami drinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan :
bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
d. Progresivisme menekankan pada
pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi
pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi
pengembangan belajar peserta didik aktif.
e. Rekonstruktivisme merupakan elaborasi
lanjut dari aliran progresivisme. Pada
rekonstruktivisme,
peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping
menekankan
tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme
lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.
Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah,
dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari
pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme,
Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan
Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan
dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat
rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum
Interaksional.[3]
Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang
jelas tentang apa yang mereka junjung tinggi. Filsafat yang kabur akan
menimbulkan kurikulum yang tidak menentu arahnya. Kini terdapat berbagai aliran
filsafat, masing-masing dengan dasar pemikiran tersendiri. Menurut Nasution
(2008) ada 4 aliran filsafat yang melandasi kurikulum yaitu :
Aliran Perennialisme
Aliran ini bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual
anak melalui pengetahuan yang abadi, universal dan absolute, atau perennial
yang ditemukan dan diciptakan para pemikir unggul sepanjang masa.
Kurikulum yang diinginkan oleh aliran ini terdiri atas
subject atau mata pelajaran yang terpisah sebagai disiplin ilmu dengan menolak
penggabungan seperti IPA atau IPS. Hanya mata pelajaran yang sungguh mereka
anggap dapat mengembangkan kemampuan intelektual seperti matematika, fisika,
kimia, biologi yang diajarkan, sedangkan yang berkeaan dengan emosi dan jasmani
seperti seni rupa, olah raga sebagainya dikesampingkan.[4]
Aliran Idealisme
Filsafat ini bependapat bahwa kebenaran itu berasal dari
“atas, dari dunia supra natural dari Tuhan. Boleh dikatakan hampir semua agama
menganut filsafat idealism. Kebenaran dipercayai datangnya dari Tuhan yang
diterima melaui wahyu. Kebenaran ini termasuk dogma dan norma-normanya bersifat
mutlak. Apa yang datang dari Tuhan baik dan benar. Tujuan hidup ialah memenuhi
kehendak Tuhan.
Filsafat ini umumnya diterapkan di sekolah yang berorientasi
religius. Semua siswa diharuskan mengikuti pelajaran agama, menghadiri khotbah
dan membaca Kitab Suci. Biasanya disiplin termasuk ketat, pelanggaran diberi
hukuman yang setimpal bahkan dapat dikeluarkan dari sekolah. Namun pendidikan
intelektual juga sangat diutamakan dengan menentukan standar mutu yang tinggi.[5]
Para filosof idealisme mengemukakan bahwa realitas
hakikatnya bersifat spiritual. Tujuan pendidikan berdasarkan aliran idealisme
ini adalah pengembangan karakter, pengembangan bakat insani, dan kebajikan
sosial. Sedangkan kurikulumnya diorganisasi menurut mata pelajaran (subject
matter) dan berpusar pada materi pelajaran (subject centered). Metode
pendidikan yang digunakan adalah metode dialektik, namun demikian tiap metode
yang mendorong belajar dapat diterima, dan cenderung mengabaikan dasar-dasar
fisiologis untuk belajar. Adapun orientasi pendidikan Idealisme adalah
esensialisme.
Aliran Realisme
Filsafat
realism mencari kebenaran di dunia ini sendiri. Melalui pengamatan dan
penelitian ilmiah dapat ditemkan hukum-hukum alam. Mutu kehidupan senantiasa
dapat ditingkatkan melalui kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tujuan hidup ialah memperbaiki kehidupan melalui penelitian ilmiah.
Sekolah
yang beraliran realism mengutamakan pengetahuan yang sudah mantap sebagai hasil
penelitian ilmiah yang dituangkan secara sistematis dalam berbagai disiplin
ilmu atau mata pelajaran. Di sekolah akan dimulai dengan teori-teori dan
prinsip-prinsip yang fundamental, kemudian praktek dan aplikasinya.
Karena
mengutamakan pengetahuan yang esensial, maka pelajaran “embel-embel” seperti
keterampilan dan kesenian dianggap tidak perlu.
Kurikulum
ini tidak memperhatikan minat aak, namun diharapkan agar menaruh minat terhadap
pelajaran akademis. Ia harus sungguh-sungguh memelajari buku-buku berbagai disiplin
ilmu. Penguasaan ilmu yang banyak berkat studi yang intensif adalah persiapan
yang sebaik-baiknya bagi lanjutan studi dan kehidupan dalam masyarakat. Dapat
dibayangkan banyaknya murid yang tidak mampu mengikut studi akademis serupa
ini.[6]
Para
filosof realisme umumnya memandang dunia dalam pengertian materi yang hadir
dengan sendirinya dan tertata dalam hubungan-hubungan yang teratur di luar
campur tangan manusia. Tujuan pendidikan berdasarkan aliran realisme ini adalah
untuk penyesuaian diri dalam hidup dan mampu melaksanakan tanggung jawab
sosial. Kurikulum berdasarkan realisme, harus bersifat komperhensif yang berisi
sains matematika, ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial, serta nilai-nilai.
Sedangkan metode yang digunakan hendaknya bersifat logis dan psikologis.
Pembiasaan merupakan metode utama bagi penganut realisme. Adapun orientasi
pendidikan realisme adalah essensialisme.
Aliran Pragmatisme
Aliran
ini juga disebut aliran instrumentalisme atau utilitarianisme dan berpendapat
bahwa kebenaran adalah buatan manusia berdasarkan pengalamannya. Tidak ada
kebenaran mutlak, kebenaran adalah relative dan dapat berubah. Yang baik ialah
berakibat baik bagi masyarakat. Tujuan hidup ialah mengabdi kepada masyarakat
dengan peningkatan kesejatreaan manusia.
Menurut
aliran pragmatisme tujuan pendidikan adalah pertumbuhan sepanjang hayat, proses
rekonstruksi yang berlangsung terus menerus dari pengalaman yang terakumulasi
dan sebuah proses sosial. Tujuan pendidikan tidak ditentukan dari luar dan
tidak ada tujuan akhir pendidikan. Tujuan pendidikan adalah memperoleh
pengalaman yang berguna untuk mampu memecahkan masalah-masalah baru dalam
kehidupan individual maupun sosial. Kurikulum menurut pragmatisme berisi
pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa, tidak memisahkan pendidikan liberal dan pendidikan praktis. Kurikulum
mungkin berubah, warisan-warisan sosial dari masa lalu tidak menjadi fokus
perhatian. Pendidikan terfokus pada kehidupan yang baik pada saat ini dan masa
datang bagi individu, dan secara bersamaan masyarakat dikembangkan. Kurikulum
bersifat demokratis. Metode yang digunakan mengutamakan pemecahan masalah,
penyelidikan, dan penemuan. Orientasi pendidikan pragmatisme adalah
progresivisme.
Tujuan
guru bukan mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan berbagai kegiatan guna
memcahkan masalah, atas dasar kepercayaan bahwa belajar tu hanya dapat
dilakukan oleh anak sendiri, bukan karena “dipompakan ke dalam otaknya”. Yang
penting ialah bukan “what to think” melainkan “how to think” yakni melalui
pemecahan masalah. Pengetahuan diperoleh bukan dengan mempelajari mata
pelajaran, melainkan karena digunakan secara fungsional dalam memecahkan
masalah.
Aliran
pragmatism sering sejalan dengan aliran rekonstruksionisme yang berpendirian
bahwa sekolah harus berada pada garis depan pembangunan dan perubahan
masyarakat. Sekolah ini menjauhi indoktrinasi dan mengajak siswa secara kritis
menganalisis isu-isu social.
Aliran Esistensialisme
Filsafat
ini mengutamakan individu sebagai factor dalam menentukan apa yang baik dan
benar. Norma-norma hidup berbeda secara individual dan ditentukan masing-masing
secara bebas, namun dengan pertimbangan jangan menyinggung perasaan orang lain.
Tujuan hidup adalah menyempurnakan diri, merealisasikan diri.
Sekolah
yang berdasarkan eksistensialisme mendidik anak agar ia menentukan pilihan dan
keputusan sendiri dengan menolak otoritas orang lain. Ia harus bebas berpikir
dan mengambil keputusan sendiri secara bertanggung jawab. Sekolah ini menolak
segala kurikulum, pedoman, instruksi, buku wajib, dan lain-lain dari pihak
luar. Anak harus mencari identitasnya sendiri, menentukan standarnya seniri dan
kurikulumnya sendiri.
Dari
semua mata pelajaran, mungkin ilmu-ilmu social yang paling menarik mereka.
Penddikan moral tidak diajarkan kepada mereka, juga tidak ditetapkan aturan-aturan
yang harus mereka patuhi.[7]
Essensialisme
menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan
keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang
berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai
dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama
halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa
lalu.[8]
Segala
keputsan yang diambil mengenai pendidikan atau kurikulum, bila ditelusuri
secara lebih mendalam, mempunyai dasar filosofis. Sering filsafat yang
mendasarinya tidak dinyatakan secara eksplisit. Keputusan tentang PPSI, CBSA,
muatan local, pendidikan dasar 9 tahun, tentu ada dasar falsafahnya.
[1] Handbook. ilmu dan aplikasi
pendidikan hal.151
[2] ahmadmaulanaakbar.blogspot.com/2012/09/filsafat-pendidikan-islam-tinjauan_15.html
[3] Akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/
[4] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008,
hlm 23
[5] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008,
hlm 23
[6] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008,
hlm 23
[7] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara,
2008, hlm 23
[8] akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/
No comments:
Post a Comment